Mengapa Setiap Orang Berbeda ( menurut Buddhisme)
Di dunia saat ini ada milyaran manusia, tapi tidak ada dua orang yang persis sama wajah dan tingkah lakunya. Bahkan kembar Siam yang sangat mirip wajahnya berbeda satu sama lain dalam hal tingkah laku, kecerdasan, kesehatan, rentang hidup, kekayaan dsb.
Siapa yang membuat orang-orang berbeda?
Ketika Buddha tinggal di Vihara Jetavanà, Subhà, putra Todeyya, menanyakan pertanyaan tentang perbedaan manusia;
“Yang Mulia, meskipun ada banyak manusia di dunia ini, mereka semua berbeda satu sama lain. Mengapa ada orang panjang umur sementara yang lain tidak berumur panjang,
mengapa ada yang sakit-sakitan sementara yang lain sehat,
mengapa ada yang jelek sementara yang lain rupawan,
mengapa ada yang hanya punya sedikit teman dan yang lainnya banyak teman,
mengapa ada yang kaya dan ada yang miskin,
mengapa ada yang lahir di kasta tinggi dan yang lain lahir di kasta rendah,
mengapa ada yang lahir dengan kecerdasan tinggi sementara yang lain tidak cerdas?”
Pada awalnya Buddha memberikan jawaban yang mendasar :
“Oh, anak muda, semua makhluk adalah pemilik perbuatannya sendiri, pewaris perbuatannya sendiri, mempunyai perbuatan seperti orangtuanya, sanak saudaranya, junjungannya. Perbuatan membagi makhluk dalam kerendahan dan kemuliaan.”
Karena karma yang dilakukan oleh orang di kehidupan lampaunya dan di kehidupannya saat ini berbeda, nasib dan keberuntungannya juga berbeda.
Subhà meminta Buddha menjelaskan dengan rinci. Demikianlah Buddha menguraikannya sebagai berikut:
Berumur pendek dan berumur panjang
Ada makhluk yang suka membunuh makhluk lainnya dan mempunyai kebiasaan membunuh.
Ketika mereka mati, mereka terlahir kembali di empat alam sengsara – alam binatang, alam setan, alam raksasa dan neraka.
Tapi kalau mereka terlahir kembali sebagai manusia dengan dukungan karma baik yang pernah mereka lakukan, hidup mereka akan pendek.
Orang-orang yang menyayangi makhluk lain dan menghindari membunuh, mereka akan terlahir kembali di alam dewa.
Tapi kalau mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan berumur panjang.
Sakit-sakitan dan sehat
Ada orang yang menyiksa makhluk lain dan menyebabkan makhluk lain cacat.
Karena perbuatannya itu, mereka terlahir kembali, setelah mati, di empat alam sengsara.
Tapi kalau mereka terlahir di alam manusia dengan dukungan karma baik yang pernah mereka lakukan, mereka akan sakit-sakitan dan mudah terserang penyakit.
Orang-orang yang menyayangi dan tidak mencelakai makhluk lain setelah mati akan terlahir kembali sebagai dewa, atau kalau mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan menikmati kesehatan yang baik.
Rupawan atau buruk rupa
Ada orang yang pemarah dan mudah marah.
Karena kemarahan ini mereka berbicara kasar, menghina orang lain. Ketika mati, mereka akan terlahir kembali di empat alam sengsara.
Tapi kalau mereka terlahir sebagai manusia karena dukungan perbuatan baik yang pernah mereka lakukan, mereka akan buruk rupa.
Sebaliknya, ada orang yang bertenggang rasa, mereka melatih cinta kasih, dan mereka tidak mudah marah. Mereka tidak pernah menghina orang lain dengan ucapan kasar.
Ketika mati, mereka akan terlahir kembali di alam dewa, atau kalau mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan menjadi rupawan.
Jadi kalau anda ingin menjadi rupawan, kendalikan kemarahan anda dan berlatihlah memaafkan dan penuh cinta kasih.
Mempunyai sedikit teman dan banyak teman
Ada orang yang iri hati dan mereka tidak menghargai keberhasilan orang lain.
Karena keirihatian ini, setelah mati, mereka terlahir kembali di empat alam sengsara.
Tapi kalau mereka terlahir sebagai manusia, mereka mempunyai sedikit teman atau tidak mempunyai teman.
Sebaliknya, orang yang tidak iri hati dan menghargai atau bersimpati atas keberhasilan orang lain, ketika mati, mereka akan terlahir kembali di alam dewa, atau kalau mereka terlahir sebagai manusia, mereka mempunyai banyak teman.
Miskin atau kaya
Ada orang yang kikir dan sangat melekat pada kekayaannya. Mereka tidak memberikan apa pun untuk disumbangkan.
Karena kekikirannya ini, setelah mati, mereka akan terlahir kembali di empat alam sengsara.
Tapi kalau mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan miskin.
Sebaliknya, orang yang murah hati dan biasa memberi, akan terlahir kembali, sebagai dewa, atau kalau mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan kaya.
Kasta rendah atau kasta tinggi
Ada orang yang sombong dan angkuh. Mereka memandang rendah dan tidak menghargai orang lain.
Karena kesombongan yang salah ini, mereka akan terlahir kembali, setelah mati, di empat alam sengsara.
Tapi kalau mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan terlahir di kasta atau kelas rendah.
Sebaliknya, ada orang yang tidak sombong dan rendah hati. Mereka hormat kepada orang-orang yang patut dihormati.
Ketika mati, mereka akan terlahir kembali sebagai dewa, atau kalau mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan terlahir di kelas tinggi atau kasta tinggi.
Bodoh atau cerdas
Ada orang yang tidak berkeinginan untuk mem- peroleh pengetahuan dan tidak berkeinginan untuk belajar. Mereka tidak bertanya pada orang yang terpelajar untuk menjelaskan apa yang baik dan buruk, apa yang betul dan salah, apa yang harus dilatih dan apa yang harus dihindari, apa yang bermanfaat saat ini dan untuk hari depan.
Tanpa pengetahuan tentang perilaku benar, mereka melakukan perbuatan buruk sehingga ketika mati, mereka akan terlahir kembali di empat alam sengsara.
Tapi kalau mereka terlahir sebagai manusia karena dukungan karma baiknya, mereka akan bodoh.
Sebaliknya, ada orang yang berkeinginan menimba pengetahuan, suka belajar dan bertanya. Mereka tahu yang benar dan salah dan hidup dengan benar.
Ketika mati, mereka akan terlahir kembali sebagai dewa, atau kalau mereka terlahir sebagai manusia, mereka akan cerdas.
(Cūḷa-kammavibhanga Sutta)
Jawaban Buddha atas pertanyaan Subhà adalah logis dan masuk akal.
Jawaban ini bisa dibuktikan dengan pengalaman sendiri dalam meditasi pandangan terang.
Jawaban ini memberikan arahan yang baik bagaimana menjalani hidup yang benar supaya terlahir kembali sebagai orang yang rupawan dan cerdas di keluarga kaya yang berkelas tinggi dan mempunyai banyak teman.
Buddha dengan benar menunjukkan bahwa semua makhluk adalah pemilik perbuatannya, pemilik karmanya. Karma sajalah harta miliknya, tidak ada yang lainnya. Jadi karma sangatlah penting bagi semua orang.
sumber: "Karma Pencipta Sesungguhnya" - DR. Mehm Tin Mon